Kultus?! Yang Bener...?
Sehubungan dengan maraknya kontroversi mengenai peran dan fungsi Pemimpin rohani dalam Gereja, kali ini saya memutuskan untuk sedikit cuap-cuap perihal pendapat saya. Anda boleh setuju, boleh tidak. Intinya, ini pendapat saya pribadi :)
Beberapa hari lalu seorang kawan menelepon saya. Kami ngobrol cukup lama, dan salah satu topik yang dibahas (halah, tuh bahasa..) adalah tentang ‘curhat’ seorang teman yang lain kepada teman lainnya lagi, yang secara ajaib bisa sampai ke telinga kawan saya ini untuk kemudian dibeberkan ke saya (bingung nggak? Ya, pokoknya begitulah. Itu seninya ‘sharing’, tho? *dumdidumdidum*).
Kita sebut saja si pencurhat ini ‘X’.
X mengemukakan pemikirannya tentang konsep –yang menurutnya- salah, yang dimiliki kebanyakan orang dalam sebuah Gereja. Menurutnya, seringkali jemaat kebablasan dalam menyikapi keberadaan seorang Pemimpin, yang berujung pada pengkultusan dan diakhiri dengan perpecahan dalam Gereja tersebut. Studi kasus membuktikan, hal serupa pernah terjadi dalam sebuah institusi rohani yang cukup besar, dan berakibat terpecahnya Gereja tersebut (uuups, institusi maksudnyaaaa ;p) -- juga tersiarnya berita itu ke seluruh penjuru melalui mulut-mulut yang lebih suka mengoreksi kesalahan orang ketimbang menelaah diri sendiri… *sarkastis mode: on*
Yang ada di otak saya cuma 1: ya terserah elo deeeeh.....
“Trus dia bilang, ‘masa kita disuruh ngedelete ajaran lama yang didapet sebelum kita di sini. Kalau menyaring, okelah, tapi kalau delete semuanya, ya nggak bisa dong.’ Gitu katanya,” cerita kawan saya.
Saya tertawa. “Lho, kan dia udah lama di sini. Kalo memang punya pikiran begitu, ngapain bertahan sejak awal? Kenapa gak cabut dari dulu-dulu?”
“Tau tuh. Aneh emang.”
Lah……
Usut punya usut, ternyata ada udang di balik bakwan yang menyebabkan X berpendapat demikian. Ia sedang ada dalam proses pendisiplinan. Dan terluka. Dan sakit hati.
Dan cukup pintar untuk mentransformasikan kekecewaan itu menjadi alasan logis.
“Dia juga bilang, ‘saya bisa kok bangkit lagi, tapi di tempat lain.’”
Oh gituuu… Yakin, Bung?
Bukannya saya tidak percaya pada kemampuannya. X memiliki talenta dan potensi alamiah yang dibutuhkan siapapun untuk jadi orang sukses. I have no doubt in that. Tapi dalam hal ini, yang menjadi masalah bukan seberapa besar potensi yang kita miliki. Bukan seberapa hebat kharisma yang kita punya. Bukan juga performa yang sanggup kita tunjukkan.
Mungkin saya bisa memaparkannya dengan lebih simpel:
Ibarat anak kelas 1 SD yang menguasai 5 bahasa, 3 jenis alat musik, sanggup bernyanyi 6 oktaf dan bisa menghafal esai 10 lembar dalam waktu 10 menit, dia tetaplah seorang anak berumur 6 tahun. Hebat memang, luar biasa memang, tapi masih kecil. Belum dewasa. Belum cukup kuat. Dan masih ingusan.
Kehebatannya mungkin mampu mengundang decak kagum orang, tapi kalau dilepas untuk survive sendirian di belantara ibukota yang kejam, belum tentu dia bisa bertahan.
Kalau Anda tanya, menurut kamu, kira-kira apa yang bakal terjadi pada si bocah?
Menurut saya, dia akan bisa bertahan dengan secuil keberuntungan. Itu kalau dia punya. Siapa tahu ada produser yang kebetulan lewat dan melirik bakatnya.
Siapa tahu ada Ibu baik hati yang berbelas kasihan dan mengadopsinya.
Siapa tahu ada yayasan yang bermurah hati membiayai pendidikannya secara penuh. Kalau tidak, mungkin nasibnya takkan jauh berbeda dengan anak-anak jalanan yang setiap hari ngamen dengan kecrekan demi beberapa ribu rupiah, menjadi bulan-bulanan preman pasar, atau yang lebih buruk lagi, jadi korban tindak kekerasan yang tidak pandang bulu.
‘Jahat amat, sih?’
Tidak. Saya hanya bicara realita.
Dan sedihnya, seperti itulah kebanyakan kita yang ada di dalam Gereja.
Kita punya banyak potensi. Kita punya talenta yang luar biasa. Kita punya kemampuan yang tidak dimiliki semua orang. Kita punya segala yang dibutuhkan untuk jadi sukses.
… kita pikir kita hebat, padahal sesungguhnya kita masih kanak-kanak.
Dan apa yang terjadi kalau seorang bocah nekat kabur karena tidak mau didisiplin sang Ayah – dan berusaha ‘hidup’ sendirian? Ya… bisa jadi hasilnya seperti yang di atas tadi.
Kembali ke masalah pengkultusan, buat saya, itu tergantung dari segi mana kita meniliknya.
Kalau Anda meninggikan seseorang lebih dari Sang Juruselamat, Anda mulai mengkultuskan orang tersebut.
Kalau Anda tergila-gila pada seseorang sampai tidak bisa membedakan yang benar dan yang salah, hati-hatilah, bisa jadi Anda mengkultuskannya.
Kalau Anda menjadikan seseorang sebagai ‘ilah’ dalam hidup Anda, Anda sudah terjebak dalam pengkultusan.
Tapi, kalau Anda mendengarkan perkataan seseorang yang cukup bijak dan matang, mengikutinya dengan sukarela karena itulah yang terbaik bagi Anda, meneladaninya karena Anda tahu Anda dapat mempercayainya, dan mengasihinya dengan tulus sehingga Anda mau menerima pendisiplinan yang dijalankan sebagai bagian dari kehidupan yang terus berproses; menurut saya Anda tidak sedang berkultus.
Anda sedang mentaati seorang Ayah.
* buat X, di manapun ia berada: ‘Siap nggak lo…?'
-JJ-

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home