Tuesday, May 8, 2007

Resep Kue Cinta

Bahan-bahan :
1 pria takut Tuhan,
1 wanita takut Tuhan,
100% komitmen,
2 pasang restu orang tua,
1 botol kasih sayang murni.


Bumbu :
20 galon doa,
1 balok besar humor,
25 gr rekreasi,
2 sendok teh telpon-telponan,
Semuanya diaduk hingga merata dan mengembang.

Tips:
- Pilih pria dan wanita yang benar-benar matang dan seimbang.
- Jangan yang satu terlalu tua dan yang lainnya terlalu muda karena dapat mempengaruhi kelezatan (sebaiknya dibeli di toserba bernama TEMPAT IBADAH, walaupun agak mahal tapi mutunya terjamin.)
- Jangan beli di pasar yang bernama DISKOTIK atau PARTY karena walaupun modelnya bagus dan harum baunya tapi kadang menipu konsumen atau kadang menggunakan zat pewarna yang bisa merusak kesehatan.
- Gunakan Kasih sayang cap"IMAN, HARAP & KASIH" yang telah mendapatkan penghargaan ISO dari Departemen Kesehatan dan Kerohanian.

Cara Memasak:
- Pria dan Wanita dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni.
- Siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu orang tua secara merata.
- Masukkan niat yang murni ke dalam loyang dan panggang dengan api cinta, merata sekitar 30 menit di depan penghulu dan Tuhan.
- Biarkan di dalam loyang tadi dan sirami dengan semua bumbu di atas.
- Kue siap dinikmati.

Catatan:
Kue ini dapat dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati dalam keadaan kasih yang hangat. Tapi kalau sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa galon doa kemudian dihangatkan lagi di oven bermerek "Tempat Ibadah" diatas api cinta. Setelah mulai hangat, jangan lupa telepon - teleponan bila berjauhan.

Selamat mencoba.

Tuesday, April 17, 2007

Badai Pasti Berlalu

Kalimat itulah yang saya ketikkan di SMS untuk menguatkan seorang sahabat yang sedang gundah.
Setelah berkali-kali disakiti oleh orang yang disayanginya, akhirnya ia mengambil keputusan tegas untuk berpisah. Bukan hal yang mudah bagi sahabat saya. Walau tidak banyak bicara, saya tahu ia terluka.

Kalimat itu jugalah yang diucapkan seorang teman kala saya meneleponnya sambil menangis, akhir Oktober lalu. Saya masih ingat betul apa yang ia katakan: “Badai pasti berlalu, enggak mungkin selamanya. Setelah ini akan ada kesenangan, juga badai-badai lain.”

Saya mengingatnya seperti baru kemarin, karena kalimat itu selalu terngiang di benak saya saat menghadapi berbagai masalah yang sulit diatasi – yang secara manusiawi bagai ‘meremukkan’ diri saya.

Sahabat saya terpaksa melepaskan orang yang disayanginya karena ada terlampau banyak luka dan masalah yang tidak pernah terselesaikan di antara mereka berdua. Saya yakin, sangat menyakitkan berpisah dengan orang yang sekian waktu lamanya ia sayangi dan percayai dengan segenap hati. Namun, seandainya sahabat saya tetap berpegang pada rasa 'sayang'nya, badai itu (mungkin) tidak akan berlalu dari hidupnya.

Kadang ada badai yang tidak bisa kita hindari, betapapun kita mencoba menangkisnya.
Kadang ada airmata yang tetap luruh, betapapun kita mencoba menahannya.
Kadang ada peristiwa tidak enak yang terjadi, betapapun kita mencoba menghindarinya.
Dan kenyataan tetaplah kenyataan, betapapun kita mencoba mengingkarinya.

Dalam kasus sahabat saya, keputusannya untuk berpisah-lah yang akan menyelamatkannya dari badai yang lebih besar.
Dalam kasus Anda maupun saya, mungkin dibutuhkan cara penanganan dan perspektif yang berbeda.

Apapun itu, tetap dibutuhkan sebuah pengambilan keputusan.

Saya tidak mengatakan pengambilan keputusan Anda akan membebaskan Anda dari badai tersebut sepenuhnya, namun setidaknya, Anda akan terhindar dari badai-badai lain yang lebih besar. Itu kalau Anda mengambil keputusan dengan benar.

Sahabat saya memilih untuk mengesampingkan perasaan emosionalnya, menilik dengan bijak dan mengambil keputusan yang tepat.
Hal yang sama bisa kita lakukan.
Anda dan saya.
Pertanyaannya, maukah kita?

Saya membaca penggalan kalimat itu sekali lagi, dan sambil nyengir menambahkan kalimat berikutnya: 'at least, kita bisa bersyukur bahwa pembawa badai itu sudah tersingkir'.

Saya membaca SMS tersebut untuk terakhir kali, tersenyum dan menekan tombol ‘send’.

Tuhan tidak pernah berjanji langit akan selalu cerah.
Namun justru saat langit tidak cerah, kita bisa melihat pelangi.

- JJ -


Saturday, March 24, 2007

Housekeeper di Rumah Tuhan

Beberapa hari lalu, ketika sedang blogwalking di arsip blog seorang penulis senior, saya menemukan entry yang menceritakan rutinitas sekaligus curhatnya sebagai ‘anggota Gereja Keliling Kota’, alias jemaat kutu loncat. Menurutnya, dari sekian banyak gereja yang pernah ia masuki, belum ada satupun yang bisa memberinya kepuasan batin. Ini sebagian kecil tulisannya yang sempat saya copy-paste:

Belum ada satupun khotbah para pemuka agama tersebut yang bisa membuat saya mengalami orgasme spiritual (Dan, alasan inilah yang membuat saya melakukan tour de gereja; mencari pengalaman orgasme secara spiritual).

Kecenderungan khotbah adalah menuturkan apa yang ada di dalam kitab suci; tanpa bisa memuaskan batin saya yang bertanya-tanya : Kenapa harus begitu? Konteksnya apa? Ada latar belakang sejarahnya nggak? Maksud filosofis dari bab-bab dalam kitab suci apa? Makna simbolik dari kejadian-kejadian itu apa?)Pada akhirnya, saya berkesimpulan - bahwa nyaris semua khotbah memiliki inti : pokoknya begitu, titik - udah nurut aja!.

Saya nggak bisa cuma ke gereja, karena katanya ke gereja itu wajib. Saya nggak bisa dengan begitu saja mengasihi sesama karena agama mengajarkan demikian, karena yang saya percaya berbuat baik dan mengasihi sesama itu adalah kewajiban yang harus dilakukan setiap manusia, atas nama kemanusiaan. Saya nggak bisa dengan mudahnya menerima ajaran tentang eksistensi manusia berdasarkan agama - masih banyak lagi.Intinya, saya tidak bisa melakukan (atau tidak melakukan) segala sesuatu karena agama mewajibkan (atau melarang) itu, tanpa ada penjelasan logisnya, karena itu sama saja dengan melakukan ritual, kebiasaan.


Sebagian orang mungkin akan langsung memberi cap ‘kafir’, ‘fasik’, ‘agnostik’, ‘ tidak beriman’, atau apapun pada pendapat seperti di atas, tapi jujur saja, ketika membaca arsip tersebut, saya melihatnya seperti ini (entah benar, entah tidak):
Mungkin selama ini Gereja telah 'gagal' menghadirkan Tuhan ke tengah jemaat, dan hanya berfokus pada aktivitas dan pembelajaran yang bersifat teoritis, sehingga selalu ada clash dengan orang-orang tertentu yang kehausan batinnya tidak akan bisa dipuaskan kecuali oleh realita Tuhan sendiri. Apalagi untuk mereka yang sudah sekian lama mencari-cari, namun di sisi lain memiliki cara berpikir yang ‘extraordinary’ istilahnya – terbiasa menggali suatu pemahaman secara kreatif dan memiliki banyak pemikiran yang sering kali tidak terpikirkan oleh orang lain. Contohnya ya si penulis itu, dan banyak lagi pekerja kreatif di luar sana.

Dan ajaibnya, dari hasil research kecil-kecilan yang saya lakukan di internet, cukup banyak pekerja kreatif yang secara implisit menyatakan keapatisan mereka terhadap eksistensi agama. Anehnya, cara mereka berbicara dan membahas permasalahan ini cenderung mirip orang Kristen (dari ‘ gaya bahasa’ yang digunakan). Bahkan ada yang terang-terangan menyebut dirinya agnostik, setelah sebelumnya bercerita tentang pengalamannya disertai detail spesifik berupa ‘pendeta’, ‘alkitab’, ‘satu-satunya jalan keselamatan’, de-es-be. Kristen banget, toh?

Lucunya, yang sering misuh-misuh begitu, ya hanya mereka-mereka yang (sepertinya) orang Kristen. Yang beragama lain, seperti Islam atau Budha, cenderung adem-ayem, bahkan menekuni agama yang mereka anut dengan serius dan bangga, disertai rasa hormat terhadap ajaran-ajaran yang mereka peroleh dari agama itu (tergambar jelas dari karya/tulisan yang mereka hasilkan).
Kenapa, oh, kenapa…

Para pekerja kreatif (penulis, pembuat film, pencipta karya) pada umumnya menelaah segala sesuatu dari sudut pandang yang ‘berbeda’. Mereka menilik dengan pikiran yang terbuka lebar atas berbagai jenis kemungkinan dan terbiasa berpikir ‘out of the box’, melampaui semua batasan – logis tidak logis, sah tidak sah, benar salah, semua ditilik secara kreatif dari persepsi yang luas. ‘Bangkit’nya industri film di Indonesia turut berperan secara tidak langsung pada lahirnya berbagai karya yang sangat beragam, dari platform estetika dan etika yang berbeda juga. Batasan tabu sudah menjadi blur dan bisa dikompromikan dengan alasan seni, sehingga segala sesuatu dianggap sah berdasarkan kebebasan berekspresi yang dijunjung sangat tinggi.

Pelan tapi pasti, konsep agama dan ketuhanan yang selama ini mengikat mereka dalam wujud doktrin mutlak yang (suka tidak suka, mau tidak mau, setuju tidak setuju) harus dituruti mulai dirasa tidak fleksibel lagi. Kehausan spiritual meningkat seiring idealisme yang terus bertumbuh, tapi akal mereka tidak lagi dapat ‘dikekang’ oleh dogma yang hanya berisi teori tanpa pernah bisa mempertemukan mereka dengan Sang Pemberi Kepuasan itu sendiri. Sementara, banyaknya ‘peraturan tidak tertulis’ dalam agama seolah mempersempit ruang gerak mereka, padahal kalau mau jujur, ada banyak ‘aturan’ yang sebetulnya tidak esensial, melainkan hanya dihasilkan dari konsep pikir agamawi yang dianggap benar dan dijadikan pegangan.

Tapi dari semuanya, mungkin yang paling ‘parah’ adalah, Nama Yesus dijadikan ‘brand’ untuk mempromosikan Kekristenan, tapi realita Ilahi itu sendiri tidak pernah bisa dinyatakan bagi mereka yang haus akan kebenaran sejati. Ada begitu banyak pengajaran yang disampaikan, tapi kebanyakan bersifat teoritis belaka dan tidak aplikatif. Padahal yang dibutuhkan Umat Tuhan bukan khotbah mengenai ‘Jika Ingin Masuk Surga, Tinggalkan Dosa’, melainkan ‘Intisari Kebenaran Sejati’.

Akhirnya, saya sampai pada asumsi sederhana bahwa banyak Rumah Tuhan yang telah ‘ditinggalkan’ oleh Sang Empunya Rumah, dan hanya dirawat oleh housekeeper belaka.

Banyak orang masuk ke dalamnya karena melihat plat besar (atau bisa disebut iklan?) yang mencantumkan nama Sang Pemilik Rumah - ingin melihat dan mengalami sendiri, kayak apa sih rasanya ketemu Tuhan? Dia itu siapa, dan bagaimana?
Tapi ketika mereka datang, yang ada di sana bukanlah Tuhan, melainkan sosok asing dalam ruangan yang ditata serbaapik, yang mengajarkan pentingnya tidak berbuat dosa dan mengikut Yesus agar lolos dari hukuman neraka dan mendapat kavling di Surga, lengkap dengan dogma dan liturgi yang tersusun rapi.
Sedangkan Yesus-nya sendiri, entah ada di mana…

- JJ, Maret 2007 -

Friday, March 9, 2007

Jomblo? Siapa Takut...!

"Hari Gini Masih Jomblo?"

Mungkin temen-temen sering denger itu. BT gak kalo kita denger kalimat itu? Gue harap temen-temen gak BT, karena gak ada salahnya kalo hari gini kita jomblo. So what gitu loh? (Begitu kata sebuah lagu) Tapi kalo kalian emang ngebet banget pengen punya jodoh, mungkin gue bisa bantu. Gue menemukan sebuah doa yang canggih banget. Kayak gini nih doanya:

Doa mencari jodoh
"Kalau dia memang jodohku, dekatkanlah... Tapi kalau bukan jodohku, jodohkanlah....
Jika dia tidak berjodoh denganku, maka jadikanlah kami berjodoh...
Kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, selain aku...
Kalau dia tidak bisa di jodohkan denganku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, biarkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku...
Dan pada saat dia telah tidak memiliki jodoh, jodohkanlah kami kembali...
Kalau dia jodoh orang lain, putuskanlah! Jodohkanlah denganku....
Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain, biar orang itu ketemu jodoh dengan yang lain dan kemudian jodohkan kembali si dia denganku...
Amin..."


Nah, udah lihat kan doa di atas. Mungkin kalian berkata, "lucu banget nih doa," atau, "doanya maksa banget sih." Tapi kalau diperhatiin, kita mungkin sering berdoa seperti itu secara tidak sadar. Kita seringkali maksa sama Tuhan walaupun Tuhan udah kasih tanda-tanda kalau hal yang kita ingini itu nggak baik. Misalnya nih, temen-temen punya kecengan yang jelas-jelas bukan anak Tuhan (tidak seiman), tapi karena dia baik dan ‘kelihatannya baik’, akhirnya kalian memutuskan untuk menuruti keinginan sendiri. Nanti kalo udah kena batunya, baru protes lagi sama Tuhan.

Hal ini nggak cuma berlaku buat kehidupan percintaan aja, tapi juga di aspek kehidupan kita yang lain. Baik itu pekerjaan, sekolah, keluarga, dll. Moga-moga lewat artikel ini kita bisa ingat lagi sama tujuan hidup kita, dan tidak cuma memaksakan kehendak dalam hidup ini, namun belajar untuk mengetahui kehendak Bapa. Kan asyik banget kalau kita tahu kita ada di jalan yang emang Tuhan sediakan buat kita.

Buat kalian yang di bulan Februari masih jomblo atau tiba-tiba jomblo (loh kok?), gak usah khawatir, karena FirTu berkata:

"Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?"

Tuhan tahu setiap kebutuhan kita masing-masing, dan Dia akan memberi sesuai dengan waktu-Nya, bukan waktu kita. Jadi, tetap semangat ya.

Hari gini jomblo! Siapa takut!

© -ud'z- 2007
-Andy Ferdinan-

Friday, March 2, 2007

Kultus?! Yang Bener...?

Sehubungan dengan maraknya kontroversi mengenai peran dan fungsi Pemimpin rohani dalam Gereja, kali ini saya memutuskan untuk sedikit cuap-cuap perihal pendapat saya. Anda boleh setuju, boleh tidak. Intinya, ini pendapat saya pribadi :)

Beberapa hari lalu seorang kawan menelepon saya. Kami ngobrol cukup lama, dan salah satu topik yang dibahas (halah, tuh bahasa..) adalah tentang ‘curhat’ seorang teman yang lain kepada teman lainnya lagi, yang secara ajaib bisa sampai ke telinga kawan saya ini untuk kemudian dibeberkan ke saya (bingung nggak? Ya, pokoknya begitulah. Itu seninya ‘sharing’, tho? *dumdidumdidum*).

Kita sebut saja si pencurhat ini ‘X’.
X mengemukakan pemikirannya tentang konsep –yang menurutnya- salah, yang dimiliki kebanyakan orang dalam sebuah Gereja. Menurutnya, seringkali jemaat kebablasan dalam menyikapi keberadaan seorang Pemimpin, yang berujung pada pengkultusan dan diakhiri dengan perpecahan dalam Gereja tersebut. Studi kasus membuktikan, hal serupa pernah terjadi dalam sebuah institusi rohani yang cukup besar, dan berakibat terpecahnya Gereja tersebut (uuups, institusi maksudnyaaaa ;p) -- juga tersiarnya berita itu ke seluruh penjuru melalui mulut-mulut yang lebih suka mengoreksi kesalahan orang ketimbang menelaah diri sendiri… *sarkastis mode: on*

Yang ada di otak saya cuma 1: ya terserah elo deeeeh.....

“Trus dia bilang, ‘masa kita disuruh ngedelete ajaran lama yang didapet sebelum kita di sini. Kalau menyaring, okelah, tapi kalau delete semuanya, ya nggak bisa dong.’ Gitu katanya,” cerita kawan saya.
Saya tertawa. “Lho, kan dia udah lama di sini. Kalo memang punya pikiran begitu, ngapain bertahan sejak awal? Kenapa gak cabut dari dulu-dulu?”
“Tau tuh. Aneh emang.”
Lah……

Usut punya usut, ternyata ada udang di balik bakwan yang menyebabkan X berpendapat demikian. Ia sedang ada dalam proses pendisiplinan. Dan terluka. Dan sakit hati.
Dan cukup pintar untuk mentransformasikan kekecewaan itu menjadi alasan logis.

“Dia juga bilang, ‘saya bisa kok bangkit lagi, tapi di tempat lain.’”

Oh gituuu… Yakin, Bung?

Bukannya saya tidak percaya pada kemampuannya. X memiliki talenta dan potensi alamiah yang dibutuhkan siapapun untuk jadi orang sukses. I have no doubt in that. Tapi dalam hal ini, yang menjadi masalah bukan seberapa besar potensi yang kita miliki. Bukan seberapa hebat kharisma yang kita punya. Bukan juga performa yang sanggup kita tunjukkan.

Mungkin saya bisa memaparkannya dengan lebih simpel:
Ibarat anak kelas 1 SD yang menguasai 5 bahasa, 3 jenis alat musik, sanggup bernyanyi 6 oktaf dan bisa menghafal esai 10 lembar dalam waktu 10 menit, dia tetaplah seorang anak berumur 6 tahun. Hebat memang, luar biasa memang, tapi masih kecil. Belum dewasa. Belum cukup kuat. Dan masih ingusan.
Kehebatannya mungkin mampu mengundang decak kagum orang, tapi kalau dilepas untuk survive sendirian di belantara ibukota yang kejam, belum tentu dia bisa bertahan.

Kalau Anda tanya, menurut kamu, kira-kira apa yang bakal terjadi pada si bocah?
Menurut saya, dia akan bisa bertahan dengan secuil keberuntungan. Itu kalau dia punya. Siapa tahu ada produser yang kebetulan lewat dan melirik bakatnya.
Siapa tahu ada Ibu baik hati yang berbelas kasihan dan mengadopsinya.
Siapa tahu ada yayasan yang bermurah hati membiayai pendidikannya secara penuh. Kalau tidak, mungkin nasibnya takkan jauh berbeda dengan anak-anak jalanan yang setiap hari ngamen dengan kecrekan demi beberapa ribu rupiah, menjadi bulan-bulanan preman pasar, atau yang lebih buruk lagi, jadi korban tindak kekerasan yang tidak pandang bulu.

‘Jahat amat, sih?’
Tidak. Saya hanya bicara realita.
Dan sedihnya, seperti itulah kebanyakan kita yang ada di dalam Gereja.
Kita punya banyak potensi. Kita punya talenta yang luar biasa. Kita punya kemampuan yang tidak dimiliki semua orang. Kita punya segala yang dibutuhkan untuk jadi sukses.
… kita pikir kita hebat, padahal sesungguhnya kita masih kanak-kanak.
Dan apa yang terjadi kalau seorang bocah nekat kabur karena tidak mau didisiplin sang Ayah – dan berusaha ‘hidup’ sendirian? Ya… bisa jadi hasilnya seperti yang di atas tadi.

Kembali ke masalah pengkultusan, buat saya, itu tergantung dari segi mana kita meniliknya.

Kalau Anda meninggikan seseorang lebih dari Sang Juruselamat, Anda mulai mengkultuskan orang tersebut.
Kalau Anda tergila-gila pada seseorang sampai tidak bisa membedakan yang benar dan yang salah, hati-hatilah, bisa jadi Anda mengkultuskannya.
Kalau Anda menjadikan seseorang sebagai ‘ilah’ dalam hidup Anda, Anda sudah terjebak dalam pengkultusan.
Tapi, kalau Anda mendengarkan perkataan seseorang yang cukup bijak dan matang, mengikutinya dengan sukarela karena itulah yang terbaik bagi Anda, meneladaninya karena Anda tahu Anda dapat mempercayainya, dan mengasihinya dengan tulus sehingga Anda mau menerima pendisiplinan yang dijalankan sebagai bagian dari kehidupan yang terus berproses; menurut saya Anda tidak sedang berkultus.
Anda sedang mentaati seorang Ayah.


* buat X, di manapun ia berada: ‘Siap nggak lo…?'

-JJ-

Friday, January 12, 2007

Resapi, dan Jadilah Kaya



Ini adalah kutipan dari buku-buku karya Prima Rusdi (cowriter Ada Apa Dengan Cinta?, scriptwriter Banyu Biru, Garasi, Eliana Eliana; penulis novel ‘Perjalanan Mata Dan Hati’+‘1095 Hari Yang Ajaib’). She’s one of my inspiring authors, dan saya akan selalu salut dengan karya-karyanya. Really, saya betul-betul tersentuh oleh tulisannya yang sarat nilai kehidupan, terutama perspektifnya tentang berbagai hal simpel yang sebetulnya amat esensial, namun seringkali luput dari perhatian kita.

Simak setiap kata, resapi maknanya, dan jadilah kaya.

-Hidup adalah hadiah terbesar yang harus senantiasa diisi dengan rasa syukur. (‘Perjalanan Mata Dan Hati’)
-Bentuk lain dari kasih sayang adalah dengan meminta maaf dan belajar dari kesalahan. (‘1095 Hari Yang Ajaib’)
-Ternyata lebih mudah bicara tentang hal yang benar daripada menjalankan hal-hal yang benar tanpa banyak bicara. (‘1095 Hari Yang Ajaib’)
-Betapa kayanya kehidupan bila kita mau mencoba mengisinya sebaik-baiknya. (‘1095 Hari Yang Ajaib’)
-Belajarlah untuk merasa kaya dengan mensyukuri apapun yang menjadi milik kita. (‘1095 Hari Yang Ajaib’)
-Ada banyak cara untuk mengenal orang lain selain mendengar suara dan perkataannya. Ketulusan hati bahkan seringkali tak memerlukan suara untuk memahaminya. (‘1095 Hari Yang Ajaib’)

- JJ -

Wednesday, January 10, 2007

Wanita Terkuat

Satu minggu lalu, Pak Steven (ayah rohani, pemimpin sekaligus gembala saya) kena cacar air. Dan yup, seperti yang sudah diketahui sejak zaman baheula, cacar air menular. Karena itu, untuk sementara beliau terpaksa ‘diisolasi’ dari rumah dan putranya, Alex.

Bayangkan kesibukan sang istri -- Ibu Elly.
Selain memimpin perusahaan (yang sedang dalam perombakan sistem yang menyita waktu dan energi), beliau juga seorang ibu. Pengasuhan Alex yang selama ini ‘dihandle’ berdua dengan sang suami, kini dilakukan seorang diri. Belum lagi kondisi kesehatan Pak Steven yang perlu dipantau dan mendapat perhatian ekstra.

As a staff working in the office near their house, I watched it with my own eyes. Kesibukan Ibu Elly, kelelahannya, semangatnya, kesabarannya, keteguhannya… sukacita yang tak pernah hilang dari wajahnya, dan senyum yang selalu tersedia kapanpun suami dan putranya membutuhkannya.

Orang seringkali ‘meremehkan’ peran seorang ibu gembala atau istri pemimpin. Mungkin karena stereotip yang berkembang di masyarakat kita tentang keberadaan seorang wanita, atau karena citra ‘istri pemimpin’ yang sudah terlanjur miring. Tapi, buat saya, itu semua tidak berlaku untuk noble woman yang satu ini.

Ibu gembala saya punya lengan-lengan yang kokoh karena menggendong Alex setiap hari, tujuh hari seminggu.
Ia punya senyum yang tak pernah habis ditelan rasa lelah dan penat.
Ia punya kesabaran yang tak terbatas, membantah anggapan sebagian orang yang bersikukuh dengan excuse '‘kesabaran kan ada batasnya!”.
Ia punya keteguhan yang melebihi pria terkuat sekalipun, karena matanya tetap dapat bersinar tulus saat kesulitan dan kesukaran menerpa.
Ia punya sukacita yang melampaui semua rasa sakit, sedih, dan kecewa.
Ia adalah tulang punggung yang menopang tubuh agar tetap berdiri tegak (siapa bilang menopang tubuh hanya tugasnya kaki?)

Ibu gembala saya, jauh melebihi yang dapat dipikirkan banyak orang, adalah wanita terkuat yang pernah saya kenal.


- JJ -

Monday, December 25, 2006

Blog Dalam Tahap Pengembangan

Sebelumnya, terima kasih sebesar-besarnya untuk Gembala dan pemimpin kami tercinta, Ps. Steven & Elly Agustinus. You're our true inspiration. Terima kasih telah menanamkan begitu banyak hal berharga, yang takkan dapat diukur dengan kata-kata. You're the BEST!

... untuk para 'prajurit' muda di seantero Indonesia -- karena kalianlah halaman ini tercipta. Keep moving on. Together we'll fulfill our destiny!