Housekeeper di Rumah Tuhan
Beberapa hari lalu, ketika sedang blogwalking di arsip blog seorang penulis senior, saya menemukan entry yang menceritakan rutinitas sekaligus curhatnya sebagai ‘anggota Gereja Keliling Kota’, alias jemaat kutu loncat. Menurutnya, dari sekian banyak gereja yang pernah ia masuki, belum ada satupun yang bisa memberinya kepuasan batin. Ini sebagian kecil tulisannya yang sempat saya copy-paste:Belum ada satupun khotbah para pemuka agama tersebut yang bisa membuat saya mengalami orgasme spiritual (Dan, alasan inilah yang membuat saya melakukan tour de gereja; mencari pengalaman orgasme secara spiritual).
Kecenderungan khotbah adalah menuturkan apa yang ada di dalam kitab suci; tanpa bisa memuaskan batin saya yang bertanya-tanya : Kenapa harus begitu? Konteksnya apa? Ada latar belakang sejarahnya nggak? Maksud filosofis dari bab-bab dalam kitab suci apa? Makna simbolik dari kejadian-kejadian itu apa?)Pada akhirnya, saya berkesimpulan - bahwa nyaris semua khotbah memiliki inti : pokoknya begitu, titik - udah nurut aja!.
Saya nggak bisa cuma ke gereja, karena katanya ke gereja itu wajib. Saya nggak bisa dengan begitu saja mengasihi sesama karena agama mengajarkan demikian, karena yang saya percaya berbuat baik dan mengasihi sesama itu adalah kewajiban yang harus dilakukan setiap manusia, atas nama kemanusiaan. Saya nggak bisa dengan mudahnya menerima ajaran tentang eksistensi manusia berdasarkan agama - masih banyak lagi.Intinya, saya tidak bisa melakukan (atau tidak melakukan) segala sesuatu karena agama mewajibkan (atau melarang) itu, tanpa ada penjelasan logisnya, karena itu sama saja dengan melakukan ritual, kebiasaan.
Sebagian orang mungkin akan langsung memberi cap ‘kafir’, ‘fasik’, ‘agnostik’, ‘ tidak beriman’, atau apapun pada pendapat seperti di atas, tapi jujur saja, ketika membaca arsip tersebut, saya melihatnya seperti ini (entah benar, entah tidak):
Mungkin selama ini Gereja telah 'gagal' menghadirkan Tuhan ke tengah jemaat, dan hanya berfokus pada aktivitas dan pembelajaran yang bersifat teoritis, sehingga selalu ada clash dengan orang-orang tertentu yang kehausan batinnya tidak akan bisa dipuaskan kecuali oleh realita Tuhan sendiri. Apalagi untuk mereka yang sudah sekian lama mencari-cari, namun di sisi lain memiliki cara berpikir yang ‘extraordinary’ istilahnya – terbiasa menggali suatu pemahaman secara kreatif dan memiliki banyak pemikiran yang sering kali tidak terpikirkan oleh orang lain. Contohnya ya si penulis itu, dan banyak lagi pekerja kreatif di luar sana.
Dan ajaibnya, dari hasil research kecil-kecilan yang saya lakukan di internet, cukup banyak pekerja kreatif yang secara implisit menyatakan keapatisan mereka terhadap eksistensi agama. Anehnya, cara mereka berbicara dan membahas permasalahan ini cenderung mirip orang Kristen (dari ‘ gaya bahasa’ yang digunakan). Bahkan ada yang terang-terangan menyebut dirinya agnostik, setelah sebelumnya bercerita tentang pengalamannya disertai detail spesifik berupa ‘pendeta’, ‘alkitab’, ‘satu-satunya jalan keselamatan’, de-es-be. Kristen banget, toh?
Lucunya, yang sering misuh-misuh begitu, ya hanya mereka-mereka yang (sepertinya) orang Kristen. Yang beragama lain, seperti Islam atau Budha, cenderung adem-ayem, bahkan menekuni agama yang mereka anut dengan serius dan bangga, disertai rasa hormat terhadap ajaran-ajaran yang mereka peroleh dari agama itu (tergambar jelas dari karya/tulisan yang mereka hasilkan).
Kenapa, oh, kenapa…
Para pekerja kreatif (penulis, pembuat film, pencipta karya) pada umumnya menelaah segala sesuatu dari sudut pandang yang ‘berbeda’. Mereka menilik dengan pikiran yang terbuka lebar atas berbagai jenis kemungkinan dan terbiasa berpikir ‘out of the box’, melampaui semua batasan – logis tidak logis, sah tidak sah, benar salah, semua ditilik secara kreatif dari persepsi yang luas. ‘Bangkit’nya industri film di Indonesia turut berperan secara tidak langsung pada lahirnya berbagai karya yang sangat beragam, dari platform estetika dan etika yang berbeda juga. Batasan tabu sudah menjadi blur dan bisa dikompromikan dengan alasan seni, sehingga segala sesuatu dianggap sah berdasarkan kebebasan berekspresi yang dijunjung sangat tinggi.
Pelan tapi pasti, konsep agama dan ketuhanan yang selama ini mengikat mereka dalam wujud doktrin mutlak yang (suka tidak suka, mau tidak mau, setuju tidak setuju) harus dituruti mulai dirasa tidak fleksibel lagi. Kehausan spiritual meningkat seiring idealisme yang terus bertumbuh, tapi akal mereka tidak lagi dapat ‘dikekang’ oleh dogma yang hanya berisi teori tanpa pernah bisa mempertemukan mereka dengan Sang Pemberi Kepuasan itu sendiri. Sementara, banyaknya ‘peraturan tidak tertulis’ dalam agama seolah mempersempit ruang gerak mereka, padahal kalau mau jujur, ada banyak ‘aturan’ yang sebetulnya tidak esensial, melainkan hanya dihasilkan dari konsep pikir agamawi yang dianggap benar dan dijadikan pegangan.
Tapi dari semuanya, mungkin yang paling ‘parah’ adalah, Nama Yesus dijadikan ‘brand’ untuk mempromosikan Kekristenan, tapi realita Ilahi itu sendiri tidak pernah bisa dinyatakan bagi mereka yang haus akan kebenaran sejati. Ada begitu banyak pengajaran yang disampaikan, tapi kebanyakan bersifat teoritis belaka dan tidak aplikatif. Padahal yang dibutuhkan Umat Tuhan bukan khotbah mengenai ‘Jika Ingin Masuk Surga, Tinggalkan Dosa’, melainkan ‘Intisari Kebenaran Sejati’.
Akhirnya, saya sampai pada asumsi sederhana bahwa banyak Rumah Tuhan yang telah ‘ditinggalkan’ oleh Sang Empunya Rumah, dan hanya dirawat oleh housekeeper belaka.
Banyak orang masuk ke dalamnya karena melihat plat besar (atau bisa disebut iklan?) yang mencantumkan nama Sang Pemilik Rumah - ingin melihat dan mengalami sendiri, kayak apa sih rasanya ketemu Tuhan? Dia itu siapa, dan bagaimana?
Tapi ketika mereka datang, yang ada di sana bukanlah Tuhan, melainkan sosok asing dalam ruangan yang ditata serbaapik, yang mengajarkan pentingnya tidak berbuat dosa dan mengikut Yesus agar lolos dari hukuman neraka dan mendapat kavling di Surga, lengkap dengan dogma dan liturgi yang tersusun rapi.
Sedangkan Yesus-nya sendiri, entah ada di mana…
- JJ, Maret 2007 -

1 Comments:
Kenapa oh kenapaaa ;D
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home